Sabtu, 23 November 2013

Kamu

Hai, kamu yang tiba tiba berdiri di hadapanku, membuatku seketika lupa dunia nyata, kamu membuatku jatuh ke dunia cinta.

Cinta?
Aku menyimpan harapan bersamamu.
Kamu yang terdiam, mungkin benci akan harapanku.
Mungkin harapan kita berbeda.
Aku terlalu cepat menaruh harapan kepadamu-entah-kamu-yang-memberi-harapan-kepadaku.
Harapan yang tak jelas akhirnya.
Mungkin harapan ini akan pupus karena kepergianmu.
Mungkin hal ini terlalu dekat. Ya, sangat dekat.
Cinta dan kehilangan.
Tanpa persiapan apapun, Aku harus rela melihatmu pergi, bahkan berlari dari kehidupanku.
Bukan butuh persiapan, aku yang tak mau mempersiapkannya.

Kamu yang meningggalkan dirimu dalam benakku. Kamu juga yang memberikan goresan goresan luka dihatiku. Dan tak lupa, kamu juga yang menaruh sisa sisa rasa di sela sela pikiranku yang membuatku mencintai masa laluku.

Ketika aku rapuh, tak ada lagi yang bisa dibantu.
Dengan ketidakpercayaan, kita masing masing telah mengucapkan selamat tinggal.
Alam sadarku kembali bangun dan mengingatkanku bahwa kita telah berpisah.
Cinta yang tak bersyarat, membuat kita tak akan pernah hilang harapan. Juga harapanku kepadamu.

Terimakasih, kamu. Telah memberi kepastian bahwa cinta itu hitam dan putih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dia; yang mencintaiku tanpa syarat (2)

“Selamat pagi, Sayang. Selamat tanggal 1 untuk yang ke 17 kita sayang. Maafin aku kalau aku belum bisa buat ayang bahagia. Sayang, semanga...